No comments yet

Bincang Santai Bersama Paku Alam X di Warung Musik Kampayo

KBPH Prabu Suryodilogo yang saat ini diangkat menjadi KGPAA Paku Alam X pada 7 Januari 2016 lalu malam tadi Jumat 29 Januari 2016 menyapa langsung warga Yogyakarta di Pasar Seni XT Square tepatnya di zona Warung Musik Kampayo.

Acara bincang santai yang dipandu oleh Indro ‘Kimpling’ Suseno dengan perbincangan ringan tentang latar belakang pendidikan Paku Alam X. Dalam sejarah, Paku Alam X merupakan Adipati Pakualaman kedua yang dinobatkan setelah Kadipaten Pakualaman bersama Kasultanan Yogyakarta bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Era sebelumnya mulai dari Paku Alam I hingga Paku Alam VIII seluruhnya bertahta di era dimana kolonialisme Inggris, Belanda dan Jepang bercokol di bumi Nusantara.

Paku Alam X merupakan putra sulung dari Paku Alam IX dengan GKBRAy. Paku Alam IX. Beliau lahir di Yogyakarta pada 15 Desember 1962 dengan nama timur RM. Wijoseno Hario Bimo.

Paku Alam X menyelesaikan jenjang sekolah menengah pertama di SMPN XI Jakarta diteruskan ke jenjang sekolah lanjutan atasnya SMA N 1 Yogyakarta lulus tahun 1982 dan melanjutkan ke perguruan tinggi UPN Veteran Yogyakarta mengambil jurusan ekonomi manajemen.

Hobi berpetualang di alam bebas tersalurkan saat menjadi mahasiswa meskipun tidak ikut dalam organisasi pecinta alam di kampus. Di lain sisi Paku Alam X semasa muda juga memiliki hobi perbengkelan bahkan sempat mengoleksi lebih dari 3000 mur-baut. Dari hobi membengkel inilah terjadi kedekatan hubungan antara Paku Alam VIII dengan Paku Alam X. Bimo (nama panggilan Paku Alam X) sering diberi tanggung jawab Paku Alam VIII untuk mengurusi peralatan panah, bahkan membuat alat bidik untuk standar ronde FITA.

Menjadi seorang Adipati Pakualam diakuinya merupakan amanat berat. Beliau menyadari kadipaten akan selalu berada diantara ketegangan antara tradisional dan modernitas. Paku Alam X berjanji akan menjadi pengemban kebudayaan dengan tujuan akhir peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang keistimewaan DIY Adipati Pakualam bertahta ditetapkan sebagai Wakil Gubernur DIY.

Dalam sebuah pembicaraan bersama kedua adiknya, Paku Alam IX (alm) melontarkan sebuah pertanyaan kepada Bimo “Mau dibawa kemana Kadipaten Paku Alam?“. Dalam pembicaraan yang menggunakan bahasa Jawa ngoko disepakati untuk mengemban kebudayaan bersama masyarakat.

“Budaya yang meluber untuk warga-masyarakat. Mengalir seperti air yang menuju lautan. Menampung semua yang ada. Baik-buruk (adalah realitas yang ada) semua diterima.” jelas Paku Alam X. “Silaturahmi itu akan membawa barokah, sehingga kita perlu memperbanyak agar terjalin komunikasi dengan yang lain.”

Dengan mengambil posisi sebagai pengemban kebudayaan, Pura Pakualaman menempatkan dirinya pada posisi yang cukup sentral dimana masyarakatlah yang menjadi pusat dari kebudayaan itu sendiri.

Dalam mendorong perekonomian serta kesejahteraan, wilayah Yogyakarta dengan keterbatasan SDA yang dimiliki serta keterbatasan wilayah memerlukan kreativitas yang terus tumbuh dengan melibatkan peran serta masyarakat. Lebih lanjut Paku Alam X menekankan bahwa di masa datang pariwisata yang menjadi salah satu andalan Yogyakarta harus lebih berkualitas secara keseluruhan dengan memperhatikan kelangsungan lingkungan, ekonomi masyarakat, serta kreativitas-keterlibatan masyarakat luas.

Membangun kebudayaan adalah membangun dialektika di masyarakat dalam komunikasi berbagai arah. Masyarakat menjadi lebih berdaya ketika ruang-ruang komunikasi dibuka seluas-luasnya agar terbangun dialektika yang berkembang secara alami. Pada titik inilah kebudayaan akan teremban secara humanis: masyarakat yang kreatif dalam memandang eksistensi dirinya.

Post a comment