fbpx

Kuliner Legendaris: Sate Kere Mbah Suwarni Pasar Beringharjo Jogja Sejak 1984

Dipublikasikan oleh admin pada

Berwisata ke Kota Yogyakarta tentunya tidak ketinggalan menyambangi Pasar Beringharjo untuk berbelanja oleh-oleh. Namun kunjungan ke Pasar Beringharjo tidak lengkap jika belum mencoba kuliner yang terkenal di Pasar Beringharjo. Dari beberapa pilihan kuliner, ada satu jenis yang disukai banyak orang baik wisatawan maupun masyarakat lokal, yakni Sate Kere. Sate ini berbahan dasar dari gajih sapi yang diberi bumbu rempah dan kecap yang dibakar diatas arang api. Konon, istilah ‘kere’ atau yang berarti miskin, datang dari kalangan bawah yang tak mampu beli setusuk sate daging.

Salah satu penjual sate kere di Pasar Beringharjo yang terkenal adalah Mbah Suwarni (73) yang sudah berjualan sate kere selama kurang lebih 40 tahun. Mbah Suwarni mudah ditemukan dengan ciri khas kepulan asap dekat pintu masuk selatan Pasar Beringharjo, tepat di bawah jembatan, duduk di depan banner bertuliskan Sate Kere Mbah Suwarni warna kuning yang cerah. Sate kere Mbah Suwarni berisi gajih yang diberi bumbu bawang putih, bawang merah, dan gula jawa, dibakar dengan arang sehingga cita rasanya makin unik. Bagi yang tidak suka gajih, Mbah Suwarni juga menyediakan sate daging sapi. Harga yang ditawarkan terjangkau yakni untuk sate kere Rp 10.000 per 3 tusuk, dan Rp 5.000 untuk sate daging sapi per tusuk.

Mbah Suwarni menjajakan sate kere meneruskan orang tua dan saudaranya yang telah dirintis sejak tahun 1984, menggunakan resep turun temurun yang tak berubah sama sekali sehingga menjadi langganan pejabat penting salah satunya Bapak R. Widagdo mantan Walikota Yogyakarta, Bahkan pernah mendapat pesanan untuk acara penting dan resmi di Kota Yogyakarta seperti acara resmi di balaikota, maupun di rumah dinas walikota. Selain itu, setiap harinya di Pasar Beringharjo Mbah Suwarni bisa menghabiskan gajih dan daging sapi sebanyak 10 hingga 15 kilogram.

“Riwayat saya dan suka duka banyak sekali selama berjualan sate kere di Pasar Beringharjo hingga sekarang mendapat pelanggan. Mulai dari berpindah-pindah tempat dari satu tempat ke tempat lain di pasar ini, hingga saya diberi izin untuk berjualan di pintu masuk ini. Saya buka dari jam 10 pagi sampai 3 sore setiap hari, menjual sate gajih, sate sandung lamur dan sate daging. Pelanggan memang paling suka dengan aroma saat sate dibakar, kata mereka itu yang menjadi ciri khas, dan menggugah selera.” ujar Mbah Suwarni.

Sate Kere Mbah Suwarni telah menjadi daya tarik tersendiri dalam kekayaan wisata kuliner di Kota Yogyakarta, karena rasanya yang lezat dan ngangeni. Di era modern ini generasi muda yang penuh rasa ingin tahu dan mencoba segala hal secara spontan akan mengunggah pengalaman menikmati sate kere legendaris milik Mbah Suwarni. Keunikan Mbah  Suwarni yang selalu memakai kebaya dan jarik khas sekali dan kental akan kearifan lokal Kota Yogyakarta. Hal ini menjadi ciri khas Mbah Suwarni yang dikagumi pelanggannya terutama wisatawan dari luar daerah maupun masyarakat lokal.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *